Sunday, February 3, 2013

Politik Korupsi Sapi


Kebanyakan masyarakat kita suka mewacanakan peternakan dari sisi negatifnya, kambing hitam (padahal bangsa-bangsa kambing yang terdapat di Indonesia nggak hitam melulu :-) ), adu domba (padahal walaupun awalnya yang paling sering di-adu adalah ayam, sekarang ini yang justru di-adu adalah lawan-lawan politik :-) ), kumpul kebo (padahal yang ngumpul si mahasiswi cantik salah satu PTS di Jkt & si-pejabat X, kebo-kebonya nggak tau pada kemana :-) ), politik daging sapi (yang benar menurut Prof Rudi Iraone tidak hanya sekedar istilah saat ini merujuk pada kasus tangkap tangan skandal suap impor daging sapi), malah yang teranyer adalah si sapi di-jenggotin (padahal jenggot itu punya-nya si kambing :-) ) dan disalahin pula (padahal setau saya sapi belum pernah di-adu domba, yang ada hanya karapan sapi ), so kasihan benar sapinya itu padahal cuman makan rumput, kering pula kata Prof Abrani Sulaiman :-) ) Komunitas pemerhati peternakan sudah berusaha menepis wacana-wacana negatif tersebut diatas, malah sampai mengkampanyekan peternakan hijau, tapi tetap saja dunia peternakan dipandang negatif, kolesterol-lah, waste products, gas methane, etc padahal … ini padahal lagi … konsumsi protein hewani (yang notabene sebagai salah satu sumber untuk mencerdaskan generasi bangsa ini) masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh dibawah rata-rata dibanding negara-negara tetangga kita (cc to Prof Burhanudin Sundu dan Prof Bram khusus untuk kajian protein telur dan trend-nya yang berkembang saat ini serta Prof Damry HB untuk kajian protein daging ruminansia ).
Insya Allah kedepan wacana-wacana negatif peternakan bisa tergantikan dengan istilah hukum umum atau hukum islam - cc to Prof Nadirsyah Hosen - dan/atau politik yang lebih pas. Amiin.
Terinspirasi dari Prof. Marsetyo Bin Sarjono

No comments:

Post a Comment