Kebanyakan masyarakat kita suka
mewacanakan peternakan dari sisi negatifnya, kambing hitam (padahal
bangsa-bangsa kambing yang terdapat di Indonesia nggak hitam melulu :-) ), adu
domba (padahal walaupun awalnya yang paling sering di-adu adalah ayam, sekarang
ini yang justru di-adu adalah lawan-lawan politik :-) ), kumpul kebo (padahal yang
ngumpul si mahasiswi cantik salah satu PTS di Jkt & si-pejabat X, kebo-kebonya
nggak tau pada kemana :-) ), politik daging sapi (yang benar menurut Prof Rudi
Iraone
tidak hanya sekedar istilah saat ini merujuk pada kasus tangkap tangan skandal
suap impor daging sapi), malah yang teranyer adalah si sapi di-jenggotin
(padahal jenggot itu punya-nya si kambing :-) ) dan disalahin pula (padahal setau
saya sapi belum pernah di-adu domba, yang ada hanya karapan sapi ), so kasihan
benar sapinya itu padahal cuman makan rumput, kering pula kata Prof Abrani
Sulaiman :-) ) Komunitas pemerhati peternakan sudah berusaha menepis wacana-wacana negatif
tersebut diatas, malah sampai mengkampanyekan peternakan hijau, tapi tetap saja
dunia peternakan dipandang negatif, kolesterol-lah, waste products, gas
methane, etc padahal … ini padahal lagi … konsumsi protein hewani (yang
notabene sebagai salah satu sumber untuk mencerdaskan generasi bangsa ini)
masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh dibawah rata-rata dibanding
negara-negara tetangga kita (cc to Prof Burhanudin
Sundu
dan Prof Bram khusus untuk kajian protein telur dan trend-nya yang berkembang
saat ini serta Prof Damry
HB
untuk kajian protein daging ruminansia ).
Insya Allah kedepan wacana-wacana negatif peternakan bisa tergantikan dengan istilah hukum umum atau hukum islam - cc to Prof Nadirsyah Hosen - dan/atau politik yang lebih pas. Amiin.
Insya Allah kedepan wacana-wacana negatif peternakan bisa tergantikan dengan istilah hukum umum atau hukum islam - cc to Prof Nadirsyah Hosen - dan/atau politik yang lebih pas. Amiin.
Terinspirasi dari Prof. Marsetyo
Bin Sarjono
No comments:
Post a Comment